Kamis, 27 November 2014

PostHeaderIcon Dampak negatif dan positif internet bagi pelajar



Dampak Positif :
1. Internet sebagai media komunikasi :
merupakan fungsi internet yang paling banyak digunakan dimana setiap pengguna internet dapat berkomunikasi dengan pengguna lainnya dari seluruh dunia.
2. Media pertukaran data :
dengan menggunakan email, newsgroup, ftp dan www (world wide web : jaringan situs-situs web) para pengguna internet di seluruh dunia dapat saling bertukar informasi dengan cepat dan murah.
3. Media untuk mencari informasi atau data :
perkembangan internet yang pesat, menjadikan www sebagai salah satu sumber informasi yang penting dan akurat.
4. Kemudahan memperoleh informasi:
kemudahan untuk memperoleh informasi yang ada di internet banyak membantu manusia sehingga manusia tahu apa saja yang terjadi. Selain itu internet juga bisa digunakan sebagai lahan informasi untuk bidang pendidikan, kebudayaan, dan lain-lain.
6. Kemudahan bertransaksi dan berbisnis dalam bidang perdagangan :
Dengan kemudahan ini, membuat kita tidak perlu pergi menuju ke tempat penawaran/penjualan karena dapat di lakukan lewat internet.
Dampak Negatif :
1. Pornografi
Anggapan yang mengatakan bahwa internet identik dengan pornografi, memang tidak salah. Dengan kemampuan penyampaian informasi yang dimiliki internet, pornografi pun merajalela.Untuk mengantisipasi hal ini, para produsen browser melengkapi program mereka dengan kemampuan untuk memilih jenis home-page yang dapat di-akses.Di internet terdapat gambar-gambar pornografi dan kekerasan yang bisa mengakibatkan dorongan kepada seseorang untuk bertindak kriminal.
2. Violence and Gore
Kekejaman dan kesadisan juga banyak ditampilkan. Karena segi bisnis dan isi pada dunia internet tidak terbatas, maka para pemilik situs menggunakan segala macam cara agar dapat menjual situs mereka. Salah satunya dengan menampilkan hal-hal yang bersifat tabu.
3. Penipuan
Hal ini memang merajalela di bidang manapun. Internet pun tidak luput dari serangan penipu. Cara yang terbaik adalah tidak mengindahkan hal ini atau mengkonfirmasi informasi yang Anda dapatkan pada penyedia informasi tersebut.
4. Carding
Karena sifatnya yang real time(langsung), cara belanja dengan menggunakan Kartu kredit adalah carayang paling banyak digunakan dalam dunia internet. Para penjahat internet pun paling banyak melakukan kejahatan dalam bidang ini. Dengan sifat yang terbuka, para penjahat mampu mendeteksi adanya transaksi (yang menggunakan Kartu Kredit) on-line dan mencatat kode Kartu yang digunakan. Untuk selanjutnya mereka menggunakan data yang mereka dapatkan untuk kepentingan kejahatan mereka.
5. Perjudian
Dampak lainnya adalah meluasnya perjudian. Dengan jaringan yang tersedia, para penjudi tidak perlu pergi ke tempat khusus untuk memenuhi keinginannya. Anda hanya perlu menghindari situs seperti ini, karena umumnya situs perjudian tidak agresif dan memerlukan banyak persetujuan dari pengunjungnya.
Secara garis besar dampak negatif internet adalah :
  • Mengurangi sifat sosial manusia karena cenderung lebih suka berhubungan lewat internet daripada bertemu secara langsung (face to face).
  • Dari sifat sosial yang berubah dapat mengakibatkan perubahan pola masyarakat dalam berinteraksi.
  • Kejahatan seperti menipu dan mencuri dapat dilakukan di internet (kejahatan juga ikut berkembang).
  • Bisa membuat seseorang kecanduan, terutama yang menyangkut pornografi dan dapat menghabiskan uang karena hanya untuk melayani kecanduan tersebut
http://safitrinopela.blogspot.com/?view=classic

PostHeaderIcon Mengapa Tawuran antar Pelajar Masih Sering Terjadi?



Mengapa Tawuran Pelajar Masih Terjadi?
sumber: Tribunnews.com
sumber: Tribunnews.com
Tawuran akan hilang bila ada kerjasama dari semua pihak. Mereka yang tawuran sering kali bingung menjawab kenapa mereka bisa menjadi seperti itu. Alasannya, karena soladiritas dengan temannya yg satu sekolah. Ketika sekolah mereka diserbu oleh sekolah lain, tentu harus mempertahankan diri.
Tapi bukan itu inti maslahnya. Kurangnya pendidikan agama dalam keluarga menjadi sesuatu yg harus dipikirkan oleh para orang tua dan guru.
Rasanya saya harus berkata, bahwa tenaga anak muda itu besar, dan kalau tidak disalurkan akan berakibat negatif seperti tawuran. Solusi paling efektif adalah menambah kegiatan-kegiatan positif di lingkungan rumah dan sekolah seperti main bola, ikut ekskul, dan la masih banyak lainnya.
Sedih sekali melihat anak muda kita saling membunuh. Tawuran antar pelajar menjadi keprihatinan kita bersama. Mengapa mereka bisa tawuran? Apakah penyebabnya? Mengapa yang mati justru mereka yang tidak ikut tawuran? Mengapa anak sekolah membawa senjata tajam, dan bukan buku?
Sejuta tanya dalam benak saya sebagai seorang pendidik. Sedih rasanya melihat peserta didik kita terluka akibat tawuran. Hal yang lebih sedih lagi, bila peserta didik kita mati akibat tawuran. Padahal, tidak sekalipun anak itu ikut tawuran. Hanya saja, takdir Allah merenggut nyawanya menjadi korban tawuran.
Jangan salahkan mereka, dan jangan juga kita saling menyalahkan. Mari kita menyikapinya dengan bijak. Setiap kita tentu pernah mengalami yang namanya sekolah. Tempat berkumpul anak bangsa untuk mewujudkan cita-citanya. Merekapun berharap lulus dari sekolah dengan berbekal pengetahuan, keterampilan, dan tentu saja budi pekerti yang luhur.
Namun sayang, tujuan bersekolah itu tak terlihat lagi. Berbagai media menyoroti tawuran antar pelajar. Sedih sekali melihat mereka berkelahi. Sesama anak bangsa saling berkelahi. Kita lihat, cuma hanya karena persoalan kecil, celurit keluar dari sarangnya. Seolah lupa, bahwa hidup hanya sekali saja. Kalah jadi abu, menang jadi arang. Tak ada yang diuntungkan dari tawuran. Semua pihak mengalami kerugian.
Orang tua menyekolahkan anak agar mampu mandiri, menjadi manusia terampil, dan kelak mampu bekerja dengan minat dan keahliannya. Tentu mereka akan kecewa bila melihat anaknya terlibat tawuran, dan menjadi korban tawuran antar pelajar. Kalau saya adalah orang tua yang mengalaminya, tentu akan kecewa, dan marah dengan kelakuan anak sendiri. Tapi, apakah marah dapat menyelesaikan persoalan anak kita?
Anak kita pada dasarnya adalah anak yang baik. Lingkunganlah yang membuat dirinya tidak baik. Bisa di lingkungan rumah, keluarga, sekolah, dan masyarakat. Semuanya bisa saling terkait karena manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain. Tak ada manusia yang sanggup hidup sendiri.
Persoalannya adalah mengapa tawuran pelajar harus terjadi? Tidak adakah rasa saling cinta mencintai, dan rasa saling sayang menyayangi di antara sesama manusia? Tak adakah pengamalan dari sila kedua pancasila, kemanusian yang adil dan beradab?
Pasti ada yang salah dalam pendidikan anak kita. Mulai dari pendidikan dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat. Hal yang pasti, belum banyak orang tua yang menjalankan tugasnya dengan baik. Belum banyak guru yang mampu menjadi tauladan buat anak didiknya. Sehingga omongannya di dengar, dan mereka akan menjauh dari tawuran antar pelajar.  Guru dan orang tua belum mampu menjadi idola mereka.
Minimnya keteladanan dari tokoh masyarakat, membuat para remaja akhirnya mengidolakan tokoh-tokoh lain yang membuat kita tak percaya kalau mereka memang telah menjadi followernya. Idola mereka tidak lagi ayah dan ibunya. Idola mereka tidak lagi bapak dan ibu gurunya. Idola mereka adalah para artis hebat yang membuat mereka tergila-gila dibuatnya. Kita akan termehek-mehek bila melihat mereka bertemu dengan idola mereka. Seperti makhluk yang bertemu dengan penciptaNya.
Dunia remaja adalah dunia yang penuh dengan pesona. Potensi unik, dan tenaga mereka sungguh luar biasa. Bila salah dalam mengarahkannya, mereka akan menjadi preman yang kejam, dan tak peduli dengan sesama.
Pengalaman menjadi seorang pendidik, bila anak sekolah waktunya sudah habis untuk kegiatan di sekolah, baik intra kurikuler mapun kegiatan ekstrakurikuler, pastilah anak itu menjadi baik. Potensi unik mereka akan tersalurkan dengan baik sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing. Tak akan pernah terpikirkan untuk tawuran, karena hobi dan minat mereka sudah tersalurkan. Merekapun akan berpikir 2 kali untuk melakukan tawuran, karena hanya merepotkan diri sendiri.
Sewaktu penulis menjadi pelajar STM (sekarang SMK) dahulu, banyak pelajar yang sudah terlibat tawuran. Tawuran terjadi biasanya usai pulang sekolah. Kami harus bertahan karena diserang tiba-tiba dari sekolah lain. Kalau sudah begitu, tak ada jalan lain kecuali melawan dengan cara kesatria. Cuma sayangnya, banyak diantara mereka yang membawa batu, kayu, dan senjata tajam. Kalau sudah begitu, ambil langkah seribu menjadi pilihan favorit. Sebab menang melawan mereka pun tiada gunanya. Hanya membuang waktu percuma, dan melukai diri saja. Biarlah mereka berkata kami pengecut. Kalah untuk menang jauh lebih berarti daripada kami harus berkelahi.
Untunglah saya bertemu dengan para guru tangguh berhati cahaya. Di sekolah kami di doktrin untuk tidak tawuran. Kalau terpaksa harus tawuran karena diserang, kami lebih baik mengambil sikap mundur. Beberapa guru tampil untuk mencari solusi damai. Sekolah kami pun akhirnya damai dan tentram. Tak ada tawuran di sekolah kami selama saya bersekolah di sekolah itu. sampai saat inipun saya tak pernah mendengar ada tawuran di sekolah saya dulu yang kini menjadi SMKN 5 Jakarta.
Di sekolah lain bahkan diterapkan peraturan. Siapa saja siswa yang telibat tawuran, maka sanksinya adalah dikeluarkan dari sekolah. Sepintas terlihat kejam, tapi hasilnya dahsyat. Tak ada satupun siswa yang mau tawuran antar pelajar. Kalaupun ada, hanya perkelahian kecil saja antar sesama siswa. Tak menjalar ke sekolah lain sehingga menyebabkan tawuran.
Pak dedi dwitagama kepala SMKN 29 Jakarta, sudah mempraktekkannya di sekolah SMKN 29 yang dipimpinnya. Tak ada anak yang berani tawuran, karena sanksinya dikeluarkan dari sekolah. Kepala sekolah harus tegas, dan membuat aturan di tahun ajaran baru. Merekapun sebagai pelajar harus tanda tangan dengan materai 6000 sebagai bukti perjanjian mereka dengan sekolah. Bila melanggar, cukup diperlihatkan saja perjanjian yang sudah mereka tanda tangani. Dari sisi hukum sekolah menang, dan tak ada lagi siswa yang berani tawuran apapun alasannya.
Di sekolah Labshool Jakarta tempat penulis mendidik anak bangsa, tak ada perjanjian siswa dikeluarkan dari sekolah karena tawuran pelajar. Namun kami fokus dengan pendidikan karakter yang sudah masuk dalam budaya sekolah kami. Iman, ilmu, dan amal bukan hanya slogan semata. Semua itu diterapkan dalam kegiatan akademis dan non akademis. Alhasil, sekolah kami tak pernah telibat tawuran antar pelajar sekolah lain. Kalaupun ada terjadi, itu semua sudah diantisipasi oleh para wakil kepala sekolah bidang kesiswaan.
Tawuran pelajar terjadi, karena anak belum menemukan potensi unik dalam dirinya. Akhirnya, potensi itu menjadi liar dan tak terkendali. Akibatnya, anak merasa menjadi jagoan, dan tak ada orang lain yang lebih jago darinya. Bila guru tak mampu menjadi pemandu untuk anak-anak ini, maka berakibat mereka tak menemukan minat dan bakatnya. Pada akhirnya, kenakalan remaja yang terjadi. Mereka merasa tidak puas dengan keadaan di sekelilingnya. Bila itu terjadi, sekolah menjadi beban buat mereka, dan bukan tantangan untuk meraih manisnya ilmu. Sekolah tak ubahnya seperti hutan belantara, dimana yang kuat dia yang berkuasa. Padahal seharusnya, sekolah menjadi peradaban ilmiah karena ada suasana menyenangkan di rumah keduanya. Sekolah harus menjadi rumah kedua buat peserta didik kita.
Sekolah harus menjadi rumah kedua peserta didik kita
Sekolah harus menjadi rumah kedua peserta didik kita
Akhirnya, tawuran pelajar yang menyedihkan harus kita sikapi dengan bijaksana. Semua anak adalah juara, dan guru di sekolah harus mampu mengembangkan potensi unik mereka. Para orang tua harus lebih memperhatikan buah hatinya, dan harus mampu menjadi idola buat putra/putrinya. Bila anak bangga dengan kedua orang tuanya, maka diapun akan bangga dengan dirinya yang melahirkan prestasi dari apa yang diminatinya.
Salam blogger persahabatan
Omjay
http://wijayalabs.com

Minggu, 23 November 2014

PostHeaderIcon Penting Ga sih di adakannya Ujian Nasional?


Ujian Nasional yg lebih dikenal dengan nama UN di tahun 2014 ini sedang mewabah para murid yg akibatnya menjadi GILA! Disini gue mau koar koar geje lah ya.
Apa sih pandangan elu tentang UN?
UN itu sebuah ujian dimana kita yg belajar 3 tahun ditentukan 3/4 hari! Gak adil kan? So pasti. Gue capek capek ngejar guru untuk dapat nilai yg gue kira bisa membantu kelulusan gue,eh malah ditentukan sama 3/4 pelajaran dan soalnya diluar batas kemampuan gue sendiri.
Kenapa elu benci banget dengan kata “UN”?
Gue benci pada Ujian Nasional karena adanya penyetaraan kemampuan murid di seluruh Indonesia yg SEBENARNYA mendikbud ini tidak tau bagaimana tingkat pendidikan di Jawa Barat, di Kalimantan Timur, di Sumatera Utara, di Papua. Dia hanya ingin terus mencetak murid murid yg memiliki kemampuan sama dan sesuai YANG DIA HARAPKAN!
Udah benci UN kenapa elu benci juga dengan mendikbud?
Jujur saja,gue gak terlalu benci adanya UN tapi gue benci banget dengan menteri pendidikan sekarang yg bernama Mohammad Nuh. Pendapat gue,dia itu pemikirannya masih kolot atau tua. Pemikirannya bukan membuat sistem pendidikan menjadi lebih baik tetapi menjadi semakin buruk!
Yaudah,gue ceritakan aja awal gue kenapa sih benci dengan UN dan menjadikan gue sendiri sebagai orang yg tidak jujur.
Gue dari kelas 1 SD hingga 6 SD selalu diterapkan oleh orang tua untuk menjadi orang jujur. Gue percaya dulu tuh kalau gue jujur,pasti orang tua gue gak marah karena dia mengerti kenapa gue melakukan kesalahan tersebut. Saat gue ujian juga,gue selalu ingin terus melakukannya dengan jujur. Dan saat gue melaksanakan ujian nasional di SD dulu,gue melakukannya dengan jujur. Gue belajar full sehari demi UN ini. Akhirnya gue lulus dengan NEM yg sangat memuaskan bagi gue dan orang tua gue yaitu 25,90. Mungkin bagi kalian kecil tapi menurut orang yg melakukannya dengan jujur dan memiliki niat pasti adalah hasil yg memuaskan.
Skip kita menuju masa SMP gue. Awal awal di SMP ini,gue masih menjadi seseorang yg jujur. Hehehe. Ulangan ulangan masih bisa lah gue kerjain sendiri tanpa menyontek. Tetapi semua berubah saat gue kesal dengan teman teman gue ada yg menyontek di ujian semester 2 SMP gue. Dan tentunya hasil yg nyontek lebih besar daripada gue yg belum pernah menyentuh kata “menyontek” pada saat itu. Mindset gue sebagai anak yg terosebsi dengan juara tanpa menyontek berubah menjadi (pasti lebih) juara dengan menyontek. Ulangan dan ujian selanjutnya pun gue kerjakan dengan menyontek. Hampir tugas pun gue menyontek juga. Dan disaat gue melaksanakan UN SMP kemarin,gue ingat sekali saat itu dimana gue mendapat kabar bahwa guru di sekolah gue sudah bersepakat dengan guru sekolah lain untuk membiarkan murid muridnya menyontek. Maksud membiarkan menyontek disini adalah murid akan dibagikan kunci jawaban dan si murid pasti akan mencari ide untuk “bagaimana gue bisa lihat contekan ini?” “mau gue tulis dimana biar gampang dilihat?” kan? Nah,disaat UN dimulai,para murid mulai mencontek kunci jawabannya masing masing entah disimpan di kaus kaki,di dalam dasi,ataupun di tangannya dan para pengawas dari sekolah lain itu “menjadi pura pura” gak tau apa yg dilakukan murid tersebut. Ohiya,kenapa pengawasnya dari guru sekolah lain? Itu emang sistemnya jadi kurang tau alasan pastinya.
Dan gue lulus dengan NEM 34,75. Rendah bagi pecontek seperti gue ini tetapi memuaskan bagi orang orang yg melakukannya dengan jujur. Entah kenapa,gue kecewa dan gak sebahagia seperti saat mendapat NEM di SD gue.
Lanjut lagi. Dan itulah yg menjadikan saya menjadi pecontek dan kurang jujur melakukan apapun. Di SMK pun sama. Hampir segala jenis ulangan dan ujian gue lakukan dengan melihat kunci jawaban atau melihat jawaban teman.
Terus apa hubungan cerita elu sama kebencian elu terhadap UN?
Gue tau pendidikan itu penting. Gue tau banget itu. Tetapi bagi gue ada celah besar kesalahan di sistem pendidikan Indonesia. Teman gue yg mencontek saat itu pernah mengatakan dia memulai kegiatan cheating ini karena takut dia gak lulus dan membuat orang tuanya malu. Dan disaat gue mengerjakan UN pun merasakan hal yg sama dimana gue ketakutan tidak lulus tetapi gue malah mengantisipasinya dengan cara yg salah……dengan menyontek.
Kesimpulannya adalah murid SD atau anak yg berumur 6 – 12 tahun itu bisa dan mudah diajarkan untuk menjadi jujur tetapi kejujuran itu akan dihancurkan secara mudah dengan adanya mindset baru “GUE GAK LULUS? APA KATA DUNIA!” pada saat anak itu mulai menginjak dan melaksanakan UN SMP maupun SMA. Maksud gue,UN ini sudah menjadi penentu segalanya. Perguruan tinggi,melanjutkan tingkat sekolah lebih tinggi,bekerja,gengsi,dll. Tentu para murid akan ketakutan jika sudah disuntikkan mindset buruk buruk “jika kamu tidak lulus …..” seperti ini.
Cerita diatas yg baru gue ceritakan adalah kisah nyata. Ohiya,jangan dicontoh menconteknya ya karena itu membuat kamu menjadi orang yg kurang percaya diri dan tidak jujur. Untuk part 2 ditunggu aja.
Terima kasih sudah membaca :)
sumber : https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1302844232336485738#editor/target=post;postID=2795953581204529619

Statistik

Jam

Pengikut

About Me

Foto Saya
dewi nur anjani
Lihat profil lengkapku
Chococat is a registered trademark of Sanrio Co., Ltd. ("Sanrio"), and the images are copyrighted by Sanrio.